|
Dalam melaksanakan kegiatannya, para anggota PERDIKAN mengamalkan metodologi pendidikan rakyat (popular education) yang bersifat non-formal, sehingga dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Semua tempat dan setiap waktu serta peristiwa yang terjadi di desa-desa dimana mereka bekerja adalah 'sekolah kehidupan' bagi mereka dan warga desa setempat.
Dalam kenyataannya, warga desa dimana anggota PERDIKAN berkarya, selalu dengan senang hati menyediakan rumah, pondok, ladang dan sawah mereka sebagai tempat pertemuan. Bahkan, di beberapa desa, warga dengan sukarela menghibahkan lahan atau bergotong-royong membangun tempat pertemuan yang mereka sebut sebagai 'Balai Warga'. Di lingkungan PERDIKAN dan jaringan INSIST secara keseluruhan, Balai-balai Warga itulah yang disebut sebagai 'Sekolah Rakyat', yakni bagian inti dari jaringan Sekolah Transformasi Sosial (STS). Hasil-hasil perbincangan di jaringan 'Sekolah Rakyat' itulah kemudian yang dibawa oleh para anggota PERDIKAN dalam pertemuan-pertemuan berkala tetap mereka. Dari sinilah muncul kebutuhan adanya satu tempat tersendiri dimana para anggota PERDIKAN juga tetap 'bersekolah'. Maka, pada tengah tahun 2007, diselesaikanlah tahap pertama pembangunan 'Kampus PERDIKAN' di Dukuh Sambirejo, Desa Sempu, Kecamatan Pakemsari, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tepatnya, sekitar 19 kilometer ke arah utara dari pusat kota Yogyakarta, beberapa ratus meter masuk dari Jalan Raya Kaliurang, sekitar 6 kilometer lagi dari kawasan wisata Kaliurang, atau sekitar 10 kilometer dari kaki Gunung Merapi --lihat peta letak (site map) di bawah. Kampus yang dibangun sepenuhnya dari hasil menabung bersama para fasilitator di lingkungan INSIST ini benar-benar 'Kampus Kampung', karena terletak di tengah kawasa lahan pertanian (sawah, tegalan, dan kebun buah) serta perumahan penduduk setempat. Dengan demikian, ketika mereka melakukan pertemuan berkala antar mereka sendiri, maka para anggota PERDIKAN tetap tidak tercerabut dari lingkungan dan suasana pedesaan seperti desa-desa dimana mereka mengorganisir dan mendidik rakyat selama ini. Meskipun peruntukan utamanya adalah bagi para anggota PERDIKAN sendiri, namun kampus ditengah kampung ini juga dapat digunakan oleh para warga desa setempat dan dari desa-desa 'Sekolah Rakyat' dimana anggota PERDIKAN berkiprah. Bahkan, meskipun belum sepenuhnya lengkap (baru ada bangunan kantor dan aula saja), namun berbagai kalangan luar juga telah memanfaatkannya. Sejak mulai digunakan efektif pada bulan September 2007, kampus ini antara lain telah pernah digunakan untuk kegiatan pelatihan oleh mitra-mitra lokal UNDP dan CCDP dari Timor Leste; mitra lokal Development and Peace (D&P) dari Canada; mitra CORDAID Belanda; dan mitra AusAID. Paling mutakhir, pada bulan Februari 2008, menjadi tempat Majelis Umum ke-2 INSIST. |