Custom Search
AKY
AKY Meyakini PDF Print E-mail
by Redaksi • 22 April 2009 • AKY

Sejarah panjang kebudayaan Indonesia terbentang paralel dengan imajinasi orang-orang Indonesia tentang bangsanya. Seperti juga bayangan kebangsaan yang dominan di masa kolonial hingga pascakolonial diwarnai oleh pandangan kaum elite [educated people], gagasan kebudayaan yang dominan pun juga diproduksi dan direproduksi oleh kaum elite. Kaum elite yang bergerak di wilayah politik dengan tuntutan Indonesia merdeka juga mencoba membayangkan kebudayaan Indonesia. Dengan demikian, secara spesifik, gerakan kebudayaan yang coba dibayangkan oleh para penggerak kebudayaan berada pada medan makna kaum elite.

Imajinasi ini sebenarnya adalah hasil pergulatan kaum elite terhadap berbagai situasi yang berkembang dari jaman ke jaman. Ketika masa kolonial, mereka memaknai bangsa sekaligus juga kebudayaan Indonesia berada di antara tegangan kebudayaan para kolonialis dan komunitas-komunitas kebudayaan lokal-tradisional. Di antara dua tegangan itulah konsepsi kebudayaan Indonesia diletakkan.

Gerakan kebudayaan, mengacu pada pembacaan demikian ini selalu mencoba menjawab modernisme versus tradisionalisme, kebudayaan kaum kolonialis versus kebudayaan asli-lokal. Saat Indonesia merdeka, maka gerakan kebudayaan kembali direproduksi dari dua tegangan oposisional yang karena tidak pernah terefleksikan di lapangan menyebabkan gerakan kebudayaan terlepas dari proses sosial massa-rakyat yang membentuknya. Petani, buruh, kaum urban perkotaan beserta suka- dukanya dianggap bukanlah merupakan issu kebudayaan. Kebudayaan kemudian diartikan sebagai sejumlah artefak semisal seni yang juga disyaratkan harus adiluhung. Ini adalah hasil dari paradigma pemikiran kebudayaan yang dikonsumsi oleh para elite, yakni pemikiran kebudayaan yang melepaskan dirinya dari pergulatan dan proses sosial.

Pada akhirnya, ketika rezim Orde Baru tumbuh, pelumpuhan gerakan kebudayaan di tingkat massa-rakyat untuk menjadi resistensi dari tiap-tiap usaha dalam menghambat demokratisasi kian nyata. Kebudayaan dipandang sebagai benda seni yang dikreasi oleh para seniman. Benda seni ini haruslah steril dari proses sosial yang di dalamnya terkandung issu ekonomi-politik. Kini, ketika Orde Baru runtuh, sejumlah pandangan dan paradigma orang memandang kebudayaan yang sangat elitis dan antidemokrasi ini sudah menubuh dan menjadi bagian dari pandangan manusia- manusia Indonesia anak kandung Orde Baru.

Karenanya, perlu dikampanyekan paradigma alternatif pemikiran kebudayaan yang mencoba mengembalikan kebudayaan kepada proses sosialnya. Hasilnya, adalah paradigma yang mendasari arah gerakan kebudayaan untuk demokratisasi, yakni paham bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta kebudayaan, bahwa kebudayaan lokal maupun urban adalah subkultur resisten untuk memerangi budaya antidemokrasi. Dengan demikian sangat mendesak pula untuk dilakukan pendidikan- pendidikan di tiap-tiap komunitas kebudayaan urban dan rural guna menumbuhkan keyakinan bahwa para pencipta kebudayaan adalah mereka yang tiap hari bergulat dengan persoalan-persoalan konkret pada hidup sehari-hari.