Custom Search
Desa Perdikan
Dusun Duwet PDF Print E-mail
by Redaksi • 22 April 2009 • Desa Perdikan

Dusun Duwet merupakan salah satu dusun dari empat dusun di desa Andong kecamatan Andong kabupaten Boyolali. Secara administrasi, kampung ini berada di arah barat kantor kecamatan, setengah km arah timur dari kantor desa.

Dusun ini membentang datar dengan enam jalur masuk kampung dari jalan raya. Ditengah kampung terdapat jalan membujur dari ujung timur hingga ujung barat kampong. Dusun ini dikelilingi hamparan sawah tadah hujan dengan dua kali padi dan palawija. Disebelah Utara dusun membentang hamparan sawah mencapai lima puluh hektar. Disebelah timur membentang sawah hingga ratusan hektar namun ini hamparan bumi desa lain. Disebelah Selatan dusun dibatasi oleh jalan raya Sragen-Semarang. Dan disebelah barat dibatasi oleh sekolah menengah tingkat pertama dan tingkat atas.

Jika dilihat dari pegunungan mbuluk limas (dataran tinggi di desa lain berjarak sekitar lima km dari kampong) tidak akan terlihat bahwa itu adalah dusun karena dusun ini terletak di dataran yang paling bawah dibanding dengan desa dan dusun lainnya. Tanaman keras tahunan masih terlihat tegak berdiri di sudut-sudut pekarangan rumah. Ada tanaman jati, trembesi, mahoni, maupun akasia sebagai cadangan kayu bakar dan batangnya dipakai untuk bahan bangunan rumah.

Kalau kita masuk ke dusun ini akan melihat berbagai pot yang ditanami bunga berada di samping atau didepan rumah warga. Sementara sisa pekarangan masih terlihat nganggur/dibiarkan terbengkalai, hanya sekitar 10% pekarangan dimanfaatkan untuk tanaman produktif, misalnya tanaman sayuran maupun tanaman pangan misalnya singkong, jagung, kacang tanah, dan lain sebagainya. Masih ada juga yang memanfaatkan pekarangan untuk tempat ternak baik sapi maupun kambing.
Lebih dari separo warga kampung ini memiliki TV, sehingga ketika kita mendongak ke atas rumah banyak sekali antene TV terlihat. Infrastruktur kampong ini sudah dicor beton, sehingga musim hujanpun kita tidak menemukan jalan becek. Listrik juga sudah menjadi konsumsi setiap warga.

Dusun ini terdapat satu Madrasah Ibtidaiyah, satu sekolah menengah pertama, dan dua sekolah menengah atas. Sehingga hampir semua anak-anak usia sekolah dapat menyelesaiakan sampai SMA, mulai bermunculan yang meneruskan ke perguruan tinggi. Ada delapan musholla yang dibangun oleh masing-masing warga dan satu masjid yang dibangun secara gotong royong.

Masjid yang terletak di pusat dusun, berdiri megah dengan ukuran masjid 14 x 14 m, dengan kubah besar dikelilingi empat loudspeaker menghadap ke seluruh penjuru. Masjid ini juga dilengkapi dengan sebuah bedug berdiameter satu meter panjang satu setengah meter, dan disampingnya tergantung kentongan dengan diameter 40 cm setinggi satu setengah meter, serambi yang luas dengan atap cor beton (persiapan tingkat) dengan ukuran 14 x 10 meter, halaman di depan serambi tidak begitu luas yang dikelilingi oleh pagar tembok dengan pion-pion kecil. Di samping kiri terdapat tempat wudlu dan toilet dengan desain masa kini, bangunan ini berada diatas kolam masjid. Dengan sengaja kolam masjid ini tidak dipugar untuk menunjukkan bahwa kemakmuran masjid ini didukung oleh ketersediaan air yang memadahi.

Kecenderungan  dan perubahan

Pangan

Dibidang pangan, masyarakat desa ini dapat dikatakan tidak ada masalah tentang ketersediaan pangan, sungguhpun masih banyak yang nempur (membeli beras untuk makan). Pola makan masyarakat ini termasuk selera tingggi, tahu dan tempe bukan merupakan lauk pokok dan istimewa.

Masyarakat membuat menu makanan yang bervariasi setiap harinya bahkan pagi, siang dan sore menu juga berbeda. Walau sekali, warga dapat dipastikan membuat sayur (bayam, kangkung, daun singkong, terong, dll). Kebutuhan sayuan ini diperoleh dari pasar maupun penjual keliling.

Pendidikan

Anak-anak di desa ini sudah tidak ada yang putus sekolah sebelum lanjutan atas. Kalaupun ada dikarenakan ketidak tertarikan si anak untuk melanjutkan sekolah. Ini dapat diartikan sebagai bentuk kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak yang sudah bagus. Bahkan sudah banyak anak-anak yang meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi di Solo, Semarang, dan Jogjakarta.

Selain pendidikan formal, di desa ini sudah ada pendidikan untuk anak-anak berupa Taman Pendidikan Alqur’an(TPA). Bahkan, dalam waktu dekat ini akan didirikan sebuah pondok pesantren.

Pada sisi lain, masyarakat merasakan ada kecenderungan perilaku anak muda desa yang kurang baik. Masyarakat merasakan, Semakin banyak anak-anak bersekolah keluar kota, semakin rusak perilakunya di desa. Saat ini sudah mulai muncul kelompok-kelompok pemabuk. Pos ronda yang dulunya dipakai sebagai tempat berkumpulnya para penjaga malam, sekarang beralih fungsi sebagai tempat perjudian. Anehnya perjudian ini dipelopori oleh orang-orang yang memiliki pengaruh di lingkungannya (baca= tokoh). Jka tokohnya sudah melakukan kegiatan yang seperti itu, maka orang-orang lain merasa sudah tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan tidak sedikit yang mengekor jejak sang tokoh.

Kesehatan

Belum ada sejarah terjadi ledakan penyakit yang dahsyat di desa ini. Wabah penyakit yang timbul sangat bervariasi mulai dari penyakit orang miskin (flu, pilek, masuk angin) sampai penyakit orang kaya (ginjal, gula, komplikasi) ada semua.

Berdasarkan informasi dari petugas kesehatan setempat (bidan desa), di desa ini sudah terdeteksi ada banyak keluarga yang mengidap peyakit asma. Penyakit ini disebabkan oleh pola hidup yang kurang sehat. Misalnya saluran draenase yang tidak lancar, fentilasi rumah kurang memadahi, kesehatan individu tidak terjamin, bahkan banyak kandang ternak jadi satu dengan rumah pokok. Penyakit dapat menular melalui percampuran ludah, maupun pernafasan.

Kepedulian warga terhadap kesehatan sangat tingggi jika dilihat dari aktifitas menjenguk orang sakit di rumah maupun rumah sakit. Tetapi kepedulian terhadap upaya menjaga kebersihan lingkungan tidak tampak.

Energi

Rumah tangga di desa Andong ini sudah menggunakan energi listrik, khususnya untuk penerangan, sarana kominkasi (TV), handphone, sound sistem, kipas angin, dll.
Untuk kebutuhan memasak sehari-hari mereka menggunakan enerigi dari listrik (Mejicom dan sejenisnya). Ada yang menggunakan kompor minyak tanah, kompor gas, dan menggunakan tungku kayu bakar. Kelangkaan minyak tanah sudah mulai terasa, pada akhir tahun 2008 ini harga minyak tanah di desa mencapai 5.100 per liter.

Kepemilikan sepeda motor juga mendominasi warga di desa ini. Lebih dari 50% warga memiliki kendaraan bermotor, hal ini juga mempengaruhi biaya harian dari sektor BBM.

Tata guna tata kelola dan tata kuasa SDA

Lahan yang ada di wilayah desa ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai lahan pertanian, pekarangan, dan tempat umum. Untuk lahan pertanian warga memanfaatkan dan mengelola sebagai lahan produktif untuk tanaman pangan misalnya padi, jagung, kacang, dan lain sebagainya.
Di desa ini masih banyak pekarangan yang cukup untuk dapat dikelola sebagai lahan rumah tangga. Minimal 100 meter persegi setiap pekarangan masih tersedia. Tetapi pekarangan ini belum dikelola dan belum dioptimalkan. Pekarangan dipandang sebagai halaman dan dibiarkan kosong, terkadang tumbuh tanaman keras secara liar. Sesekali diambil kayunya untuk kayu bakar.

Ada sepuluh hektar lahan bengkok (kas desa) yang terdapat di hamparan desa Andong. Dulunya lahan ini dipakai untuk membayar perangkat desa. Mulai tahun 2008, Tanah bengkok harus dilelang dan uangnya untuk menggaji perangkat dengan pembagian secara proporsional sesuai tugas dan jabatan masing-masing. Pelelangan tanah bengkok ini dilakukan secara terbuka, artinya siapa berani membayar mahal, dia yang menang. Keputusan ini berdampak positif bagi perangkat desa, semakin harganya mahal, maka semakin tinggi pula honornya. Tetapi hal ini berdampak negatif bagi warga miskin, harga lelang semakin tinggi, maka orang miskin tidak dapat menikmatinya. Lelang lahan ini dilakukan setahun sekali.

Bertani tidak lepas dari kebutuhan air. Ketersediaan air untuk mendukung pertanian hanya sebatas cukup, artinya petani tidak dapat menanam padi sepanjang tahun. Pada  musim ketiga (kemarau) petani biasanya menanam komoditas lain yang kebutuhan airnya terbatas. Saat ini, warga semakin merasakan bahwa ketercukupan air mulai mengalami kecenderungan berkurang.

Sebelum ada mesin diesel air, petani mengerjakan lahan setahun sekali (padi – padi – palawija). Setelah bermunculan mesin pompa air ini, lahan tidak pernah istirahat. Pola yang diterapkan adalah pada awal penghujan petani menanam padi, sebelum panen sudah membuat pesemaian. Begitu panen tiba langsung diolah dan ditanami padi lagi, begitu selesai panen padi, lahan tidak diolah lagi dan langsung ditanami jagung (unyil) dengan umur 70 hari panen. Karena panen jagung pertama belum ada hujan, maka petani langsung menanami jagung lagi. Sebelum panen jagung kedua jika sudah ada hujan, maka petani mulai menyemai padi untuk tanam pada musim berikutnya.

Walaupun tidak ada hujan, petani masih berani berspekulasi untuk menggarap lahannya sebagai lahan pertanian, hal ini dikarenakan sudah banyak petani yang memiliki pompa air dan sumur pantek di lahan. Hampir dipastikan jika memiliki lahan sendiri minimal  0,25 ha pasti punya sumur dan pompa air.
Selain bertani mengolah lahan, banyak petani yang mengolah lahan juga memelihara ternak sapi dan kambing. Ternak bagi petani digunakan sebagai barang tabungan, dan sebagai sarana penghasil pupuk kandang penyubur lahan. Seluruh petani yang mengelola lahan menggunakan pupuk kandang, walaupun masih ditambah dengan pupuk kimia. Untuk mendukung ketercukupan kebutuhan hidupnya, selain itu juga masih banyak petani peternak dan bekerja harian kasar lainnya (buruh bangunan). Ini karena dengan dua sumber tersebut masih dirasa kurang.

Sumber-sumber penghidupan masyarakat Dusun Duwet

Bertani

Total tanah di dusun ini mencapai lima puluhan hektar yang dibagi menjadi beberapa peruntukan. Dua tempat dipakai untuk pemakaman seluas dua hektar, untuk sarana umum (masjid dan sekolahan mencapai satu hektar), untuk sumber air umum sekitar seribu meter persegi, untuk lokasi pemukiman mencapai sepuluh hektar
Total sawah dan tegalan di dusun ini mencapai empat puluhan hektar. Sedangkan kepemilikan tanah ini dibagi menjadi dua yaitu milik perorangan seluas lebih dari 30 hektar dan milik desa (tanah kas) seluas lima hektar. Sedangkan kepemilikan perorangan antara 0,2 hingga 0,5 hekatar per pemilik lahan.

Biaya usaha tani untuk tanaman padi di dusun Duwet untuk luasan 0,2 hekatar sebanyak 1, 5 juta rupiah, sedangkan produksi pada kondisi normal mencapai 1,2 ton, dan harga gabah kering panen 200 rupiah per kg. Sehingga dalam satu musim jika petani menggarap sawah seluas 0,2 hektar akan mendapat penghasilan (1,2 ton x 200 rupiah) sebesar 2,4 juta rupiah. Jadi pendapatan dari usaha tani padi dalam satu musim adalah 2,4 juta dikurangi 1,5 juta sama dengan 900 ribu rupiah.
Rata-rata kepemilikan pekarangan seluas 100 meter persegi untuk masing-masing rumah. Pekarangan ini ada yang sudah dimanfaatkan untuk tanaman musiman maupun tanaman keras atau tanaman. Tanaman pekarangan ini sangat banyak ragamnya, ada tanaman sayur misalnya kacang panjang, bayam, cabe. Ada tanaman obat keluarga misalnya jahe, lengkuas, serai, kunyit, dan lain sebagainya. Tetapi tanaman ini belum dikelola secara intensif. Hampir seluruh pekarangan terdapat tanaman pisang, tanaman ini ada yang dipanen buahnya ada juga yang hanya dipanen daunnya. Beberapa jenis tanaman keras yang ada di pekarangan diantaranya adalah tanaman buah mangga, jambu isi, sawo, dan tanaman keras misalnya jati, mahoni, akasia. Tanaman tahunan buah hanya diambil buahnya untuk dimakan saja belum dikelola untuk komoditas ekonomi. Sedangkan tanaman tahunan kayu dimanfaatkan untuk persediaan pakan ternak (khusus tanaman mahoni), rantingnya untuk kayu bakar dan batangnya untuk bahan bangunan rumah.

Model upah pada dibidang pertanian sawah maupun tegalan dihitung berdasarkan hari kerja, kecuali untuk tenaga panen padi. Untuk pengolahan lahan dengan hand tarktor menggunakan sistem kontrak per luasan lahan, misalnya pada luasan lahan seribu meter persegi biayanya 100 ribu rupiah mulai dari olah lahan pertama (luku) sampai siap ditanami. Upah tenaga kerja pada saat panen biasanya dibayar dengan gabah, dalam satu hari satu tenaga kerja mampu mengais 20 kg gabah kering panen, jika dihitung dengan uang maka dalam satu hari satu orang mendapat upah sekitar 40 ribu rupiah. Untuk tenaga kerja mencangkul dalam satu hari mendapat upah 25-30 ribu rupiah. Sedagkan tenaga kerja tanam biasanya dihitung hanya sampai jam 12 siang upahnya 10-15 ribu rupiah, ini sama dengan tenaga kerja penyiangan.

Tenaga kerja dibidang pertanian ini melibatkan semua pihak baik laki-laki maupun perempuan sesuai kemampuannya. Biasanya laki-laki mengerjakan kegiatan yang bersifat kasar misalnya mencangkul, dan mentraktor. Sedangkan perempuan mengerjakan kegiatan tanam. Pekerjaan seperti cabut bibit, penyiangan, memotong padi, dan merontok dikerjakan tanpa memandang jenis kelamin. Tidak ada pembedaan waktu dan upah bagi tenaga kerja antara laki-laki dan perempuan.
Bertani merupakan pekerjaan utama sebagian besar masyarakat. Komoditas yang dikembangkan adalah komoditas pangan (padi, jagung, dll). Lahan yang dikelola untuk mendapatkan penghasilan adalah lahan sawah dengan semi irigasi, maksudnya pada musim penghujan mereka mengandalkan air hujan untuk mengairi sawahnya, tetapi pada musim kemarau mereka mengambil air tanah dengan mesin pompa air. Pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan pokok untuk menghidupi keluarganya. Belum terlihat ada warga yang memanfaatkan pekarangannya sebagai lahan produktif sebagai sumber pendapatan.

Ternak Sebagai Cadangan

Disamping bertani, beternak merupakan pekerjaan pokok kedua. Ternak yang banyak dikembangkan oleh masyarakat ini adalah ternak kambing, sapi, dan sebagian ayam. Ternak ini dipahami sebagai barang tabungan sewaktu-waktu membutuhkan biaya besar dalam sekejap bisa mendapatkan uang. Selain itu limbah ternak ini dipakai sebagai pupuk pengganti pupuk kimia, karena harga pupuk kimia sudah mahal dan akhir tahun ini langka. Model pengelolaan ternak ini ada yang membeli dari modal sendiri, ada pula yang bekerjasama dengan orang lain (sistem gaduhan) dengan bagi hasil 50:50.