|
Wonokeling merupakan salah satu desa dari 9 desa yang tersebar di kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar. Wilayah ini terletak di ujung selatan bagian timur dari kabupaten Karanganyar. Batas wilayah desa Wonokeling disebelah timur adalah berbatasan dengan desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri, kemudian sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sanan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri, sebelah utara berbatasan dengan desa Wonorejo dan sebelah barat berbatasan dengan desa Petung yang kedua desa ini masih termasuk kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar. Masyarakat Wonokeling jika akan pergi ke kota kecamatan harus menempuh jarak 12 Km, sedangkan menuju kota Kabupaten Karanganyar harus menempuh jarak 42 Km. Desa ini berjarak kurang lebih 200 km dari pusat propinsi Jawa Tengah.
Luas wilayah Desa Wonokeling sekitar 570.410 Ha, yang dihuni oleh 816 KK (3.856 jiwa terdiri Lk: 1.905 jiwa , pr: 1.972 jiwa). Desa ini terletak di lereng Gunung Lawu bagian selatan dengan ketinggian antara 600 -1000 M dpl (diatas permukaan laut). Desa ini memiliki topografi berbukit dan lembah. Desa ini memiliki curah hujan rata-rata 175 – 3000 mm/Th. Desa ini cukup sejuk dengan suhu rata-rata 25-30 C. Pemukiman penduduk letaknya bergerombol dalam satu tempat di masing-masing dusun. Desa Wonokeling terdiri dari 10 dusun yaitu Wonoleren, Selobentar, Metro, Ngesep Kidul, Ngesep Lor, Kemengan, Gandri, Wonokeling, Duwetan dan Watugede. Letak atau jarak masing-masing dusun sangat berjauhan yang dipisahkan oleh perbukitan. Hal ini memungkinkan terjadinya interaksi social yang relative kuat dalam satu dusun, dan interaksi masyarakat antar dusun yang relative renggang. Menurut data bahwa lahan yang paling luas adalah lahan kering (tegal dan pekarangan)sebesar 54,79% dari total jumlah lahan, praktis tanaman yang mendominasi adalah palawija (jagung, ketela pohon), empon-empon sebagai tanaman tumpangsari. Jalan antar dusun di Desa Wonokeling sebagian besar sudah beraspal yang mulai rusak karena dimakan usia. Sedangkan jalan kecil di dalam dusun sebagian ada sudah makadam, ada yang dicor /betonisasi, dan masih banyak berupa tatanan batu-batu kali. Jalan-jalan yang ada di dusun merupakan hasil swadaya masyarakat. Alat transportasi yang dipergunakan masyarakat sebagian besar berupa sepeda motor. Masyarakat di desa ini jarang menggunakan sepeda angin atau ‘pit onthel’, karena jalanan desa yang naik-turun cukup tajam. Alat transportasi umum atau biasa disebut dengan ‘omprengan’ tidak ada yang melewati desa ini setiap hari. Angkutan ‘omprengan’ hanya ada setiap hari-hari pasaran, misalnya pasaran Jatiyoso (pasar di pusat kecamatan) pada pasaran legi dan wage . Untuk sampai ke pasar di pusat kecamatan dengan naik angkutan ‘omprengan’ diperlukan biaya Rp 3.000,- sampai dengan Rp 5.000,-. Sedangkan jika menggunakan ojek motor diperlukan biaya Rp 10.000,- sampai dengan Rp 15.000,- agar sampai ke pusat kecamatan Jatiyoso. Ojek di desa ini tidak sama dengan desa lainnya, dan sebenarnya tidak ada masyarakat yang berprofesi sebagai tukang ojek. Jika ada warga yang akan bepergian jauh dan mendesak atau penting, mereka dapat minta tolong tetangganya untuk mengantarkan sampai tujuan. Masyarakat yang menggunakan jasa antaran tersebut hanya mengganti ongkos beli bensin. Hal ini berbeda dengan kota kecamatan Jatiyoso. Di kota kecamatan ini ada posko ojek yang setiap saat ada tukang ojek yang mangkal. Bagi warga yang tidak mempunyai motor, biasanya hanya dilakukan dengan menelusuri jalan pintas/setapak yang melewati tegal/kebun agar sampai ke dusun yang lain. Pilihan jalan pintas ini dapat menghemat waktu tempuh jika dibandingkan dengan melewati jalan desa. Di desa Wonokeling juga terdapat beberapa pasar , salah satunya adalah pasar di Dusun Ngesep Kidul (salah satu dusun di desa ini). Lokasi pasar ini terletak di sekitar halaman masjid dan rumah warga. Pasar di dusun Ngesep Kidul umumnya ramai pada pasaran kliwon dan pon waktu sore hari, yang biasanya satu hari sebelum pasaran Jatiyoso. Pasar ini merupakan tempat pertemuan antara warga yang menjual hasil bumi dengan beberapa tengkulak dusun yang kemudian pagi harinya dibawa para tengkulak ke pasar Jatiyoso. Interaksi jual beli di pasar ini sudah terjadi sejak tahun 2004. Bagi petani, keberadaan pasar ini cukup membantu dalam menjual hasil buminya.Kegiatan transaksi diluar hari pasaran, biasanya terjadi ketika musim panen tiba (jagung,singkong, palawija, dan sayuran). Pada musim-musim panen, para tengkulak langsung ke lahan untuk menebas hasil tanaman (jagung, singkong)untuk dibeli. Tetapi untuk hasil tanaman padi, petani tidak biasa menjual hasil panen. Hasil panen padi biasanya digunakan untuk persediaan pangan keluarga. Pertanian dan Kehidupan PetaniMasyarakatnya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, mereka mempunyai lahan rata-rata 0,15-0,5 Ha dan dikerjakan sendiri pengelolaannya. Biasanya petani yang mempunyai lahan luas adalah orang yang berpengaruh di lokasi (misalnya kadus, RT, Kepala Desa). Menurut pak nardi ada klas-klas kepemilikan lahan (misalnya klas A, B, C) yang masing-masing mempunyai ukuran tertentu. Klas C merupakan warga yang mempunyai lahan sedikit. Ini biasanya digunakan untuk menentukan jumlah iuran disaat membangun infrastruktur dusun. Rata-rata yang paling banyak adalah warga yang mempunyai klas C. Lahan masyarakat yang berada di pinggir- pinggir sungai dan daerah landai digunakan sebagai produksi padi karena relatif datar dan cukup air, sedangkan pada lahan miring/ lereng perbukitan digunakan untuk penanaman palawija dan sayuran. Pola tanam yang digunakan adalah padi-padi-padi (lahan sawah), buncis/jagung – buncis/jagung – bero/buncis. Dalam hubungannya dengan belanja/pengeluaran keluarga untuk pangan, padi dan sayuran untuk dikonsumsi sendiri bukan untuk dijual. Sedangkan hasil jagung hibrida tetap dijual untuk kebutuhan lain. pengeluaran paling besar adalah untuk kebutuhan pangan sebesar Rp. 438,000 (52,5%) diikuti kebutuhan sosial sebesar Rp. 115,000 (13,8%). Menurut hitungan tersebut, pengeluaran keluarga dalam sehari Rp. 27,811 (52.5% untuk pangan). Padahal kebutuhan pangan sebesar Rp. 438,000 diperoleh dengan cara beli di toko/pasar sebesar 69%, sedangkan 31%-nya dipenuhi sendiri. Sehingga kalau dihitung uang yang berputar ke luar daerah (bahan tak tersedia di desa) dalam satu desa sebesar Rp. 302.220 x 816 kk = Rp. 246.611.520/bln. Dalam melakukan budidaya tanaman, tenaga kerja menjadi komponen penting. Bagi buruh/pekerja pertanian dalam waktu 8 jam dibayar Rp 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah), itu belum termasuk makan dan rokok. Tetapi bagi yang ikut dalam kelompok macul, tenaga hanya dibayar Rp 2.000,-/orang dalam waktu setengah hari. Untuk tenaga perempuan rata-rata dibayar Rp 20.000/hari. Menurut hasil catatan analisa usaha tani, untuk tanaman padi seluas 2000 m2 membutuhkan biaya sebesar Rp. 1.175.000 dan mendapatkan hasil 750 kg @ Rp. 1.800 = Rp. 1.300.000 sehingga hanya punya keuntungan Rp. 175.000/Mt, sedangkan untuk tanaman jagung dengan luas 700 m2 membutuhkan biaya 332.000 dan menghasilkan jagung 200 kg @ 2000 = Rp. 400.000. sehingga hanya mempunyai keuntungan 68.000. Produktifitas padi di wilayah wonokeling baru 35,6% dari produktifitas padi tingkat Jawa Tengah baru 33.7% dari produktifitas padi kab. Karanganyar, sedangkan produktifitas jagung di Wonokeling hanya sebesar 9,6 Ku à 24.8 % dari produktifitas Jateng dan 26.8 % dari produksi jagung tingkat kab. Karanganyar. Sehingga produktifitas padi dan jagung di Wonokeling masih berpotensi untuk ditingkatkan. Selain peningkatan produksi, untuk mendukung pemenuhan kebutuhan keluarga perlu didukung oleh sumber-sumber pendapatan yang lain, misalnya peternakan, perikanan, industri rumahtangga, dan perdagangan sehingga mendorong masyarakat untuk mencari pendapatan lain dengan cara boro (Jakarta, Semarang, Solo, Kalimantan, dan Surabaya) unuk mencari tambahan penghasilan (Bakso dan Jamu). Tenaga kerja yang kurang serta tingginya biaya produksi (bibit mahal, saprotan mahal) juga mendorong untuk Boro ketempat lain. Kecenderungan dan Perubahan-perubahan Kehidupan DesaAir, pertanian, dan penghidupan sebelum tahun-tahun 80-an, sebagian besar masyarakat desa Wonokeling bekerja pada sector pertanian. Pada tahun 2000-an jumlah masyarakat yang bekerja pada sector pertanian mengalami penurunan dan sudah hampir disama dengan masyarakat yang bekerja di bidang swasta. Penurunan ini terjadi karena berubahnya tata guna lahan sawah menjadi tegal akibat sumber air diambil alih PDAM, sehingga warga memilih untuk merantau untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Dari 1.482 penduduk angkatan kerja, 583 penduduk bekerja di sektor pertanian (sebagai petani), disusul dengan 460 penduduk yang bekerja di sektor swasta. Sektor swasta yang dimaksud di sini adalah bekerja sebagai wirausaha di perantauan. Sumber Air Bukan Milik Petani LagiMenurut pak Sriyatno yang menjabat sebagai sekretaris desa Wonokeling, bahwa dulu di semua wilayah desa Wonokeling dapat ditanami padi dan sayur karena mendapatkan air yang cukup dari mata air yang terletak dilereng pegunungan diatas desa. Saat ini situasi berubah, sejak lokasi di sekitar mata air menjadi gundul karena penebangan kayu, Apa lagi sejak 1975 PDAM Tirta Dharma kabupaten Wonogiri mengambil air di sumber mata air walikan untuk kebutuhan air minum, maka pasokan air ke sawah dan ladang petani semakin berkurang. sumber air dari telaga yang terletak di dekat dusun yang berjarak sekitar 1 km dari Dusun Watugede ini lebih diperuntukkan bagi penduduk Wonogiri yang secara administratif berada di wilayah kabupaten berbeda. Akibatnya, khusus di Watugede, sekitar 40 ha ladang yang sangat bergantung pada sumber air harus mengalami ‘tragedi’ kekurangan pasokan air. Walhasil, ladang kekurangan air. Terlebih jika musim kemarau. Demikian Pak Giyarto dan Pak Sunarjo, warga RT 2, berkeluh-kesah. Sama halnya dengan cerita Pak Larno yang sudah bertani sejak 33 tahun yang lalu. Menurutnya, sejak PDAM Wonogiri beroperasi, ia menjadi tidak bisa lagi memakai irigasi dan banyak mengandalkan pada hujan. Begitu juga tegalan Ndawe seluas 6 ha (milik Pak Narjo, Pak Sugi, Pak Taryo, Pak Giyarto, dan Pak Midi) dan Ngelengkong bawah seluas sekitar 10 ha (Mbah Parno, Pak Larmi, Mbah Warsih, dan Mbok Suki). Dampak lanjutan yang dirasakan adalah hilangnya bawang merah dan wortel karena tegalan hanya biasa ditanami jagung, ketela, dan ubi kayu. Sedangkan buncis hanya bisa ditanam sesekali, tergantung ada tidaknya hujan. Melihat kenyataan bahwa ‘hak milik’, ‘hak kelola’, dan ‘hak manfaat’ mereka terampas, masyarakat hanya mampu ‘diam’, karena begitu kuatnya kuasa pemerintah. Pernah masyarakat Dusun Korya, Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, yang lokasinya dibangun pipa PDAM, melakukan protes, tapi akhirnya dapat diredam dengan perjanjian dan pemberian kompensasi. Perjanjian yang tidak melibatkan warga Watugede ini menyatakan bahwa PDAM hanya boleh menggunakan 1/3 bagian saja dan warga 2/3 bagian. Tapi pada kenyataannya, yang terjadi malah sebaliknya, warga hanya kebagian 1/3 bahkan kurang (hanya 1/4), untuk seluruh warga pengguna. Menurut penjelasan Pak Sumadi, Pak Karmo, Pak Kasno, dan Pak Sular, rencana bahwa akan dibangun PDAM, masyarakat tidak pernah diberi tahu. Dugaan mereka, Pemerintah Kabupaten Karanganyar sudah melakukan kesepakatan untuk ‘menjual’ sumberdaya air tersebut ke pihak PDAM Tirta Dharma. Secara langsung, di tingkat desa dan kecamatan, kepala desa dan camat menjadi kaki tangan dari Pemerintah Tingkat II Kabupaten Karanganyar waktu itu. Bahkan sampai sekarang, masyarakat tidak pernah tahu akan adanya perjanjian tersebut apalagi isinya. Lahan sawah biasanya ada di bagian lembah, dekat sungai, sedangkan tegal berada di lereng bukit. Pada musim hujan kebutuhan air untuk pertanian masih tercukupi , tetapi dimusim kemarau air sangat kurang karena debit air sungai/kali berkurang, sehingga model gilir dalam membagi air menjadi bagian kehidupan berkelompok mereka. Kalau lahan tegal sudah tidak mendapatkan air lagi maka lahan diberokan, paling tinggal tanaman singkong yang masih tersisa dan belum dipanen. Dari Sawah Menjadi TegalanProses perubahan tata guna lahan dari sawah menjadi tegal memakan waktu yang panjang, dan ini sebenarnya tidak diinginkan. Tetapi alam menghendaki lain, ulah manusia sendiri yang membuat masalah itu terjadi, dan sekarang sangat dirasakan betapa pentingnya air untuk penghidupan yang sekarang dirampas oleh PDAM. Berbekal dengan kemampuan yang ada petani tidak menyerah dalam optimalisasi penggunaan lahan tegal, yaitu menanami lahan tersebut dengan barbagai komoditas, terutama tanaman singkong, jagung, serta empon-empon seperti jahe, kunir, temu lawak, dll. Pemanfatan lahan pekarangan di desa (khususnya lahan kering 54,79 %) belum diupayakan secara maksimal, terutama pada lahan-lahan pekarangan dan tegal. Masyarakat wonokeling umunya mempunyai pekarangan sempit karena lahan miring, tetapi mempunyai lahan tegal yang cukup luas. Tanaman yang ada di lahan tegal umumnya tanaman semusim (jagung, singkong) dan tumbuh beberapa tanaman keras seperti sengon, nangka, Cengkeh. Pohon pisang juga masih dominan di lokasi ini. Kebutuhan energi untuk memasak biasanya dengan menggunakan kayu dengan mengambil di tegal (seperti batang ubi kayu, rompesan tanaman keras) yang sudah cukup untuk memasak sehari-hari. tetapi ada juga yang membeli kayu dengan harga 11.000/pikul (2 ikat). Rata-rata dalam 1 bulan menghabiskan 30 ikat kayu. Sehingga dalam waktu tertentu akan mengalami kekurangan bahan bakar dari kayu. Saat ini banyak lahan-lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman empon-empon dan tanaman keras belum dioptimalkan penggunaanya, sehingga kurang menyokong pendapatan petani. Kondisi ini lebih disebabkan karena sedikitnya informasi yang dapat diakses oleh petani yang menyangkut teknologi budidaya dan peluang pasar. Masalah lain yang timbul di daerah yang kemiringan lahan cukup tinggi (sampai 45%) adalah saat musim hujan terjadi erosi dan tanah longsor, yang bisa menyebabkan hilangnya lapisan top soil tanah yang merupakan lapisan yang mengandung unsur hara penting untuk mendukung sektor pertanian. Apabila hal ini tidak ada penanganan yang dapat menjawab persoalan tersebut akan mengakibatkan terjadinya lahan kritis yang tidak dapat lagi mendukung sektor pertanian (baik sawah maupun tegalan). Untuk mengatasi hal tersebut dapat diupayakan dengan pengendalian tingkat erosi pada lahan-lahan yang miring dengan tehnik-tehnik konservasi lahan dan juga penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau untuk mengembalikan kesuburan tanah dan pembentukan lapisan top soil tanah. Hal ini diupayakan untuk menjawab produktifitas lahan/ peningkatan produksi persatuan luas lahan guna meningkatkan pendapatan petani. Keterkaitan dengan pangan juga, bahwa penggunaan pupuk kimia diyakini dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah, menghilangkan unsur-unsur mikro tanah yang penting bagi pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Selain itu, persoalan yang dihadapi petani adalah mahalnya harga pupuk kimia, terjadinya kelangkaan pupuk akibat ulah distributor, dan juga banyaknya pupuk pupuk palsu. Pengurangan pupuk kimia akan dapat miningkatkan pendapatan petani dari efisiensi biaya pemupukan, dan juga meningkatkan kesuburan tanah untuk meningkatkan produktifitas lahan. Dan yang lebih penting adalah meningkatnya kreatifitas petani yang selama ini hanya sebagai konsumen tanpa ada kreatifitas untuk melakukan ujicoba menggunakan potensi-potensi lokal sebagai pengganti pupuk kimia. Persoalan lain adalah sistem pola tanam yang dikembangkan adalah sistem monokultur sehingga rentan terhadap fluktuasi harga pasar. Empon-empon Sebagai AlternatifEmpon-empon ternyata merupakan produk andalan dilahan tegal setelah singkong dan jagung. Hasil ini terbukti hampir disetiap pemilik lahan tegal menanami empon-empon. Apalagi ada Warga dusun Selobentar ada yang menjadi agen bahan jamu dari PT. Air mancur Wonogiri. Namanya Mbah Midin yang tinggal dirumah hanya dengan istri dan 1 cucunya. Dia membeli bahan jamu basah kepada warga sekitar lalu buat kering. Dengan cara dirajang dikeringkan baru disetor. Untuk harga bahan dari warga : kunir basah Rp. 400/kg , jahe Rp.1000/kg, umpyung Rp.500/kg, gagan Rp.1000kering/kg, oyot alang-alang 500/kg basah. Jenis bahan jamu antara lain temu lawak,umpyung, pegagan. Bahan ini dulu mencarinya mudah, sekarang agak sulit. “Disini Banyak yang tanam jahe, kunir, untuk jahe saya tanam dari bibit seharga Rp.3000, tetapi dijual hanya Rp. 1000/kg. ini apa mungkin karena banyaknya yang panen” kata mbah Midin. Mungkin stok pedagang yang banyak sehingga harga murah. Untuk bahan tersebut tidak boleh terkena jamur, tetapi kalo kering ya tidak jamuran, kalo musim hujan disetor basah,karena sulit dikeringkan. Waktu jahe mencapai harga Rp. 6000, dikeringkan perkilo Rp.20.000 kering putih. Ini berani buat bila dapat meningkatkan hasil. Yang perlu dicari untuk 1 kg jahe kering butuh berapa kilo basah. Adanya tengkulak lokal di pasar dusun membantu petani dalam menjual hasil panennya ke tanpa harus ke pasar Jatiyoso. Mereka biasanya membayar dengan cara tunai. Pengelolaan TernakPengelolaan ternak yang dilakukan oleh petani sebenarnya sudah diorientasikan pada peningkatan ekonomi, tetapi pola budidaya ternak yang dilakukan masih sederhana dan skala kecil. Di sisi lain kredit yang didistribusikan pemerintah di fokuskan pada pengembangan sector tanaman pangan, yang mengakibatkan dukungan permodalan dalam sektor lain tidak ada, padahal petani sangat membutuhkan dukungan permodalan dalam pengembangan diluar sector tanaman pangan (ternak). Di wilayah Wonokeling khususnya Watugede hampir semua warga mempunyai ternak sapi 1-3 ekor, sehingga dalam 1 dusun ada sekitar 180-an ekor. Kotoran sapi yang dihasilkan dalam sehari(24 jam) mencapai 35 kg x 180 ekor = 6.300 kg/hari. kotoran ini digunakan untuk memupuk tanaman dilahan tegal (palawija). Selama ini kesehatan ternak di wilayah Wonokeling cukup baik, karena ada mantri hewan yang setiap saat bisa dikontak jika ada ternak petani yang sakit. Soal penyakit Ternak yang muncul adalah gatal-gatal yang mengakibatkan luka kecil, tetapi masih bisa diatasi. Ternak sapi ini diperoleh dengan cara gaduh, tetapi umumnya milik sendiri. Menurut Pak Nardi lagi : Hitungan pendapatan l memelihara ternak sapi dalam 10 bulan dengan modal pembelian sapi Rp.6 juta menghasilkan 10 juta, sehingga memperoleh pendapatan 4 juta/10 bulan (400.000/bulan) belum termasuk biaya pakan. Sedangkan untuk ketersediaan pakan ternak selama ini cukup, petani mengambil rumput dilahannya sendiri dengan cara memelihara rumput di pematang/ galengan disamping untuk mengurangi erosi tanah. Ketersediaan pakan ternak dimusim hujan sangat cukup, tetapi dimusim kemarau agak berkurang karena rumput yang ditanam di tegal mati karena kurang air. Pengembangan peternakan ini diarahkan pada pengelolaan peternakan yang dapat menunjang pendapatan petani dan juga pemanfaatan kotoran (pupuk organik) dalam mendukung sektor pertanian. Memelihara sapi disamping untung secara ekonomi juga untung karena mendapatkan kotoran/lethong yang digunakan sebagai pupuk organic. Hasil ternak ini cukup untuk tambahan penghasilan. Apalagi sekarang ada model bagi hasil 30% bagi pemilik sapi dan 70% bagi petani pemelihara. Karena persoalan utama di lahan kering adalah tingkat erosi yang mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat kesuburan tanah. Sehingga perlu ada pengganti tanah yang hilang tersebut dengan pupuk kandang dalam skala yang besar agar dapat meningkatkan produktifitas lahan. Sehingga integrasi program pertanian dan peternakan menjadi salah satu jawaban untuk dapat meningkatkan pendapatan keluarga petani. Pendidikan Anak-anakSekarang ini dalam satu desa ada 1 sekolah TK, 3 Sekolah setingkat SD, dan 1 SMP. Sekolah Dasar yang ada di desa ini memiliki sarana dan prasaran belajar masih kurang mendukung, misalnya gedung sudah mulai rusak, sarana belajar kurang memadai, tidak ada perpustakaan. Pendidikan anak-anak ini memberikan beban kepada orang tua yang cukup besar. Untuk anak Sekolah Dasar setiap hari diberi uang saku Rata-rata Rp. 2000/anak, sedangkan anak SMP sekitar 2000-3000/anak. Kadang-kadang beban keuangan keluarga bertambah, jika anak tersebut mengikuti kelas belajar di Taman Pendidikan Alqur’an (TPA) sore hari. Biasanya anak yang mengikuti TPA diberi uang saku minimal Rp 1.000. Uang jajan anak ini, umumnya digunakan untuk membeli makanan yang siap santap. Hal ini dapat dilihat dari warung dan toko yang jarang atau bahkan tidak menjual makanan yang diolah sendiri (pisang goreng, tela,dll). Hal ini menjadikan anak-anak tidak memiliki alternatif lain, selain membeli makanan instan. Anak-anak biasanya bermain setelah pulang dari sekolah. Ada yang main bola, mancing, main di sungai, karena rumah mereka dekat sungai Walikan. Kadang bagi yang mempunyai kambing, anak-anak ikut menggembala sambil bermain. Dahulu masyarakat menyekolahkan anaknya hanya sampai SMP, setelah itu merantau. Maka, Keberadaan Sekolah Menengah Pertama (SMPN 3 Jatiyoso) yang terletak di dusun Metro desa Jatiyoso, sangat dirasakan manfaatnya oleh warga. Terutama dalam mengurangi biaya biaya transportasi (hanya berjalan kaki) dan mendekatkan anak dengan sarana belajar. Bagi anak yang berkeinginan meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (SMA) mereka harus datang ke kota Wonogiri atau kota Karanganyar. Biasanya mereka harus kost di dekat sekolahan. Sebenarnya ada keinginan dari desa agar di lokasi sekitar Wnokeling di bangun Sekolah SLTA, agar anak di desa Wonokeling dan sekitarnya tidak jauh-jauh untuk sekolah sampai ke kota Wonogiri, Karanganyar dan Solo. KesehatanSarana kesehatan yang ada di desa ini adalah puskesmas pembantu (pustu). Pustu biasa digunakan dalam pelayanan imunisasi, pengobatan, dan konsultasi bagi masyarakat. Untuk masyarakat yang sakit yang agak serius, biasanya merujuk ke Puskesmas Jatiyoso dan atau ke Rumah Sakit di kota wonogiri, kota karanganyar, dan kota Solo. Untuk menjaga kesehatan bagi Balita, di desa ini ada posyandu di masing-masing dusun. Posyandu digunakan untuk mencatat perkembangan anak balita dan pelaksanaan imunisasi masal. Kegiatan Posyandu masih sebatas penimbangan berat badan dan pemberian makanan tambahan (PMT). Untuk pemenuhan Kebutuhan gizi keluarga, sebagian besar masyarakat menanam sayur sendiri di kebun pada musim hujan. Dari hasil wawancara dengan 25 kk di Dusun Watugede tentang kesehatan anak dan keluarga, diperoleh keterangan bahwa belum pernah ada musim pagebluk (penyakit serentak di satu wilayah). Penyakit yang umum di derita warga masyarakat hanya keluhan sakit panas, demam, dan masuk angin. Di dusun Watugedhe Masih ada sekitar 6 kk yang belum mempunyai MCK permanen. Umumnya, mereka masih memanfaatkan sungai Walikan untuk melakukan kegiatan MCK. Budaya dan Kelompok SosialMasyarakat membentuk kelompok kerja untuk mengadakan kegiatan social serta pembangunan dusun. Kelompok kerja ini diberi nama “kelompok arisan rumah”. Kelompok ini dapat ditemui di hamper semua dusun di desa wonokeling. Pembentukan kelompok ini digunakan untuk meringankan beban warga masyarakat terutama warga yang kurang mampu dalam perbaikan atau pembangunan rumah. Selain itu juga untuk melakukan perbaikan sarana-prasarana umum bagi warga. Mekanisme kerja kelompok ini adalah orang yang membangun rumah menyediakan bahan bangunan; setiap warga (KK) memberikan bantuan berupa 1 (satu) zak semen; pembangunan dikerjakan secara gotong-royong secara bergiliran dalam bentuk tim-tim kecil dan dijadwal; tuan rumah menyediakan konsumsi selama proses pengerjaan. Untuk melakukan perbaikan prasarana seperti perbaikan jalan, saluran irigasi, bendungan, dan tempat ibadah dilakukan dengan gotong royong. Anggaran pembangunan ini diambil dari kas kelompok yang telah dikumpulkan. Selain kelompok arisan rumah, khusus di watu gedhe ada kelompok yang diberi nama “kelompok Macul”. Kelompok ini digunakan untuk Penggalian dana pembangunan secara swadaya. Mekanisme yang dijalankan dalam kelompok ini adalah melakukan kerja macula tau menggarap lahan; bagi pemilik lahan yang dikerjakan membayar Rp 2.000 kepada setiap orang yang melakukan kerja; bagi anggota kelompok yang membolos dikenakan denda Rp 10.000,-; bagi pemilik lahan menyediakan konsusmsi berupa makan besar dan rokok; kegiatan macul dilakukan dalam waktu setengah hari. Kelompok sosial yang lain berupa kelompok pengajian ibu-ibu, kelompok arisan, posyandu, dan kelompok tani. Masing-masing kelompok mempunyai bentuk dan jenis kegiatan yang berbeda-beda. (untuk keterangan lebih lanjut, akan di update selanjutnya) Perantauan sebagai Alternative Bertahan Menurut pak Sutimin (mantan Kades Wonokeling th 2007), bahwa perantauan di desa Wonokeling sudah ada sejak tahun 1975. Pada awalnya dilakukan beberapa orang. Setelah dirasa sukses, langkah menjadi perantauan mulai diikuti oleh warga yang lain. Menurut pak Sutimin, pada tahun 70-an belum ada hasil petanian yang baik, panen padi hanya 1 kali dalam setahun. Itupun bagi yang memiliki lahan sawah. Bagi petani yang tidak mempunyai punya lahan sawah, mereka hanya memiliki hasil singkong dan jagung. Menurut Pak Sutimin, “…desa ini dulunya masih terlihat daerah kumuh… pembangunan belum Nampak.. ekonomi belum mapan…transportasi belum ada..kemudian mulai membangun dengan masuknya air minum…jalan muali dibangun… pendidikan dibangun…tempat ibadah dibangun. Sekarang ekonomi masyarakat nampak bagus dari hasil pertanian dan perantauan” Perantauan dari desa Wonokeling memiliki perbedaan atau kekhususan dibandingkan wilayah lain. Perantauan dari desa Wonokeling adalah perantauan mandiri. Mereka merantau bukan sebagai buruh, namun sebagai pengusaha jualan bakso bagi yang laki-laki dan jualan jamu bagi yang perempuan. Menurut pak Giman (lurah Selobentar), “ para perantau sebelum berangkat… bagi yang jualan jamu… biasanya kulakan dulu dari sini”. Sini yang dimaksudkan adalah dari daerah Jatiyoso dan sekitarnya. Biasanya perantau membeli bahan jamu dari pasar Nguter sukoharjo, atau pasar Jatiyoso, dan Jatipuro. Para perantau biasanya membawa bahan jamu dengan membeli untuk keperluan satu tahun. Nilai belanja bahan jamu tersebut kira-kira sebesar Rp. 3.000.000. Umumnya, para perantau kehabisan stok bahan jamu dalam waktu ½ tahun. Untuk mencukupi kekurangan bahan baku jamu, perantau menyuruh saudaranya untuk mengirim bahan jamu dari rumah dengan cara di paketkan. Menurut Pak Giman, saat ini sudah ada orang dari dusun Selobentar yang membuka usaha sebagai agen jamu di Dumai Riau. Orang tersebut adalah pak Marno. Bagi para penjual jamu, biasanya akan mengambil di tempat Pak Marno jika butuh bahan jamu dalam jumlah kecil. Jika membutuhkan dalam jumlah besar masih tetap meminta dikirimi oleh keluarga via paket. Penghasilan bersih perantau penjual jamu saat merantau tidak dapat ditentukan secara pasti. Menurut pak Nardi, minimal RP 100.000 (seratus ribu rupiah) dalam sehari jualan. Bagi mereka yang memperoleh rejeki nomplok, kadang dalam 3 bulan mendapat uang Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah), tergantung bulan-bulan tertentu. Pak Giman (lurah Selobentar) menuturkan, “…untuk rata-rata 2 - 3 bulan memperoleh lima belas juta… berarti perbulan lima juta… ini gak bisa jadi patokan… kadang satu tahun hanya pulang orangnya saja. Ini tergantung cara menggunakan uang. Ini juga tergantung lamanya merantau, biasanya yang sudah lama telah mendapatkan tempat atau langganan, sedangkan yang baru masih cari pasaran “. Transportasi bagi perantau bervareasi. Transportasi yang biasa digunakan adalah bus dan pesawat udara. Untuk perjalanan udara biasa ditempuh melalui bandara Jogjakarta menuju kota tujuan. Berdasarkan pengalaman Pak Giman pada tahun 1982, Untuk perjalanan dengan menggunakan Bus biasanya ditempuh dalam waktu 4 hari menuju kota tujuan Riau. Menurut Bapak Giman, ada sekitar 180 orang dari dusun Selobentar yang merantau. Dari 180 orang perantau, 70 orang diantaranya adalah perempuan penjual jamu. Dari informasi tersebut, dapat dihitung jumlah uang milik warga yang disetor ke luar daerah untuk membeli bahan jamu adalah: 70 orang x Rp. 3.000.000 = Rp 210.000.000. karena umumnya mereka membeli bahan dalam 6 bulan sekali, maka uang yang keluar dari desa mencapai Rp. 210.000.000/ 6 bulan. Jadi orang dusun Selobentar membawa uang keluar atau dibelanjakan di luar sebesar Rp. 420.000.000,- (empat ratus dua puluh juta) dalam setahun. Bahwa perantau terbanyak berasal dari dusun Selobentar, kemudian dusun Metro dan watugede. Masih ada beberapa dusun yang belum kami ketahui jumlah perantaunya. sebagian besar perantau memiliki kota tujuan di luar jawa. Bagi keluarga yang ditinggalkan merantau, biasa mendapat kiriman uang dalam jumlah yang tidak pasti. Namun, bagi yang ditinggalkan hal tersebut tidak menjadi persoalan, yang penting cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jumlah uang yang dikirim ke rumah dalam setiap bulan biasanya dibawah Rp. 500.000, (limaratus ribu rupiah). Untuk uang sekolah dan uang jajan bagi anak-anak yang ditinggalkan, biasanya sudah diberikan sebelum berangkat atau istilahnya ninggali duit dulu. ini tergantung kebutuhan. Pengiriman uang dari perantau dilakukan dengan berbagai cara, dapat dititipkan kepada perantau lain yang pulang dan lewat rekening BRI. Memulai belajar bersama dari dusun Watugede dan SelobentarWatugede dan Selobentar merupakan bagian dari desa Wonokeling. Pertimbangan dalam memilih lokasi ini adalah: Dusun Watugede merupakan wilayah yang tidak asing bagi saya. Karena sejak tahun 1999, saya sudah melakukan interaksi dengan masyarakat di wilayah tersebut. Sejarah Dusun WatugedeMenurut cerita pak Sular, Pada masa penjajahan belanda dusun Watu gede belum ada, waktu itu masyarakat masih tinggal di dusun Nongko Gadung, desa wonorejo karena letak dusun berada di atas bukit sehingga lama kelamaan penduduknya padat. Oleh karena itu setiap anak yang menikah oleh keluarga dari masyarakat tersebut disuruh bodro atau pindah ke daerah dibawahnya. Karena sudah disepakati Kemudian mereka pindah ke lokasi dibawahnya. Perpindahan tersebut juga bersamaan pada waktu itu ada peristiwa banjir besar di bagian timur Dusun Nangka Gadung akibat luapan Sungai Walikan, Mbah Karyorejo, Mbah Sonokarto, dan Mbah Sonorejo, warga Dusun Nangka Gadung ‘hijrah’ meninggalkan tanah kelahirannya menuju sebuah kawasan persawahan bernama Teloyo. Mbah Karyorejo , Mbah Sumi, Mbah Mbah Sonokarto, dan Mbah Sonorejo memiliki ikatan persaudaraan. Mbah Karyorejo, dan Mbah Sonokarto bersaudara kandung tapi lain ibu, sedangkan Mbah Sonorejo memiliki ikatan saudara dari sebelah isterinya alias sebagai ipar. Mbah Sonokarto bapaknya Pak Sukidi/Marto Tiyono, Mbah Sonorejo adalah bapaknya Pak Kromoyono. Adanya kejadian banjir yang melanda kampung semakin membulatkan tekad mereka untuk mencari penghidupan baru di ‘rantau’. Sebelum berpindah, mereka sudah membeli beberapa petak tanah di Teloyo dari warga Metro, Ngesep Kidul, dan Ngesep Lor, yang dulunya memiliki hampir seluruh tanah di Teloyo. Inilah mengapa kepindahan mereka tidak mengalami kendala yang berarti. Menurut cerita dari keturunan mereka, kepindahan rombongan awal warga Nangka Gadung ini terjadi di masa pra kemerdekaan, sebelum tahun 1940-an. Kedatangan mereka di daerah baru inilah yang menjadi cikal-bakal terbentuknya Dusun Watugede. Pada saat pindah ke Watugede, hanya Mbah Karyorejo yang sudah memiliki anak, sedangkan lainnya belum. Tak lama berselang, melihat keberhasilan ‘para pionir’ dan besarnya potensi di ‘tanah baru’ tersebut, datang lagi rombongan warga Dusun Nangka Gadung yang mencoba mengadu nasib mereka. Adalah Mbah Sidem, Mbah Saminem, Mbah Kasdi, dan beberapa warga lainnya menyusul ke Teloyo untuk ikut mencoba mengadu nasib. Saat ini, hanya Mbah Sidem yang masih hidup. Mbah Sidem adalah Ibunya Mbah Kromoyono (bapaknya Pak Sular). Dulunya, wilayah Dusun Watugede merupakan kawasan persawahan. Hampir seluruhnya merupakan milik penduduk daerah Dusun Ngesep dan Dusun Metro. Dalam perkembangannya, sedikit demi sedikit, tanah tersebut berpindah tangan ke pendatang dari Nangka Gadung, terutama pada gelombang hijrah selanjutnya. Dan sekarang, bisa dikatakan hampir seluruh tanah tersebut dimiliki warga Watugede. Hanya beberapa petak yang masih dimiliki oleh warga Ngesep. Mulanya mereka membangun rumah sekedar untuk tempat berlindung dari panas dan hujan. Bangunannya sangat sederhana, dari papan kayu dengan atap dari rumput kering. Meskipun demikian, bangunan tersebut sangat kuat dan tahan lama. Dan seiring perkembangan zaman, bahan untuk bangunan mengalami perubahan. Bahkan sekarang ini, hanya satu rumah yang terbuat dari papan (rumah Pak Narmo, atas rumah Pak Karmo), namun kosong karena ditinggal merantau sekeluarga. Sebagian besar sudah permanen, dengan tembok batu dan atap genteng atau seng, namun bentuknya tetap menganut bentuk asli (limasan) dengan berbagai variasi. Atap genteng baru dikenal dan digunakan warga pada tahun 1965-an. Sedangkan seng baru digunakan sekitar tahun 1975-an. Tapi, meskipun lebih hangat, karena harganya yang mahal (sekitar 50 ribu rupiah perlembar), warga lebih memilih genteng sebagai atap (perseribu sekitar 400 ribu rupiah). Hanya sebagian kecil yang menggunakan seng. Mengapa dinamakan Watugede? Menurut cerita, dinamakan Watugede karena dulu banyak terdapat batu-batu besar yang sekarang masih ada beberapa yang tersisa. Nah saat itu ada orang pitar (kyai dari sukoharjo) menamai dusun tersebut dengan nama watugede. Batu yang paling besar terletak di samping rumah Pak Wignyo (Ketua RT 2). Salah satu batu besar yang berada pas di bawah (lantai) masjid lama. Ukurannya hampir sebesar bangunan tempat TPA tepat di sebelah masjid lama. Pada saat pembangunan masjid di sekitar tahun 1985-an, batu tersebut di-papas dan ditimbun untuk dijadikan pondasi masjid. Watugede merupakan salah satu dusun yang ada di desa Wonokeling, terletak di ujung utara desa berbatasan dengan desa Wonorejo. Orang mengatakan bahwa dusun ini salah satu central sayur di kecamatan jatiyoso. Jumlah penduduk dusun ini mencapai 379 jiwa (laki-laki : 183 jiwa , perempuan : 196 jiwa) dan terbagi menjadi 3 RT (rukun tangga). Masyarakatnya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, mereka mempunyai lahan sekitar 0,15-0,4 Ha dan dikerjakan sendiri pengelolaannya. Lahan masyarakat yang berada di pinggir sungai Walikan digunakan sebagai produksi padi karena relatif datar dan cukup air, sedangkan pada lahan miring/ lereng perbukitan digunakan untuk penanaman palawija dan sayuran. Jika musim hujan Lokasi ini sering terjadi longsor karena terkikis air dan kemiringan lahan cukup tinggi (sampai 45%). Pola tanam yang digunakan adalah padi-padi-padi (lahan sawah), buncis/jagung – buncis/jagung – bero/buncis. Kegiatan ini sudah dilakukan turun temurun sejak dahulu. Menurut Pak Sumadi (kepala dusun), luas wilayah Dusun Watugede kurang-lebih 74 hektar, terdiri dari Lahan palawija sekitar 40 hektar, Areal persawahan sekitar 20 hektar, Areal perkebunan sekitar 5 hektar, Perumahan masyarakat sekitar 8 hektar, Fasilitas umum sekitar 1 hektar. Kondisi pertanian yang berubah dari tahun ketahun berpengaruh terhadap keadaan ekonomi keluarga masyarakat desa Wonokeling umumnya dan dusun watugede khususnya. Menurut Pak Nardi salah satu petani di Watugede bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kalau hanya mengandalkan dari kegiatan pertanian saja tidak cukup (ini hanya bisa untuk makan saja), nah agar kebutuhan tercukupi maka hampir semua warga memelihara ternak sapi. Memelihara sapi disamping untung secara ekonomi juga untung karena mendapatkan kotoran/lethong yang digunakan sebagai pupuk organic. Hasil ternak ini cukup untuk tambahan penghasilan. Apalagi sekarang ada model bagi hasil 30% bagi pemilik sapi dan 70% bagi petani pemelihara (walaupun masih taraf ujicoba). Tetapi masih banyak lagi kegiatan warga untuk menambah pendapatan, diantaranya sebagai tukang kayu, tukang batu, buka warung kelontong dan bagi warga yang masih muda merantau ke Jakarta, Kalimantan, jawa timur dengan menjual bakso. Nah,.. yang tinggal dikampung hanya orang tua saja, tetapi diwaktu musim tanam atau musim panen tiba, mereka pulang untuk melakukan kegiatan pertanian. Walaupun kegiatan pertanian tidak dapat mencukupi kebutuhan tetapi menurut pak Nardi yang menyebabkan kita sadar untuk bertani adalah bertani akan dapat melestarikan alam, kita akan mengetahui langsung tentang kondisi alam, kemudian peran petani sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terakhir dapat mengurangi pengangguran karena banyak juga warga yang tidak punya garapan. Disamping kegiatan pertanian, masyarakat Watugede juga membentuk kelompok kerja untuk mengadakan kegiatan social serta pembangunan dusun. Ini dilakukan untuk meringankan beban warga masyarakat terutama warga yang kurang mampu dalam perbaikan atau pembangunan rumah. Selain itu juga untuk melakukan perbaikan sarana-prasarana umum bagi warga. Kegiatan ini dirintis sejak nenek moyang. Kegiatan membangun rumah warga dilakukan secara gotong royong dan bergilir. Pemilik rumah hanya menyediakan bahan bangunan serta menyediakan konsumsi selama pekerjaan dilakukan. Untuk warga yang lain membantu satu sak semen dan tenaga sampai selesai. Selanjutnya dalam kegiatan untuk prasarana seperti perbaikan jalan, saluran irigasi, bendungan, tempat ibadah dilakukan dengan gotong royong. Anggaran pembangunan ini diambil dari kas kelompok yang telah dikumpulkan. Penggalian dana untuk pembangunan secara swadaya oleh kelompok dilakukan melalui model pengelolaan lahan bersama. Misal : dalam mengolah lahan dibutuhkan tenaga 20 orang, maka pemilik lahan membayar tenaga Rp. 2000/hr /orang, yang diserahkan kepada kelompok sebagai kas, sedangkan yang tidak ikut kerja bakti harus membayar Rp. 10.000 yang juga untuk kas kelompok. Kas kelompok ini yang biasanya digunakan untuk dana pembangunan lingkungan dusun. Bantuan –bantuan dari fihak lain jarang diperoleh. Menyangkut tentang kebiasaan masyarakat jawa dalam hal sesaji, kenduri, sadranan di dusun Watugede sudah mulai hilang, karena masyarakat merasa terbebani/biaya tinggi untuk melakukan kegiatan itu (mengurangi pengeluaran), serta menurut kepercayaan itu tidak dibenarkan. Untuk mempertahankan kekompakan diadakan pertemuan kelompok secara rutin (selapan satukali). Anggota kelompok ini, awalnya hanya 12 orang, terus muncul kelompok arisan, kemudian masing masing RT membentuk kelompok dan mengadakan pertemuan rutin setiap malam senin legi, sedangkan pertemuan gabungan antar RT dilakukan setiap malam senin pon. Pertemuan rutin ini dilakukan untuk membahas persoalan yang ada di masyarakat tingkat dusun ataupun RT. Di dusun Watugede ada sarana kesehatan yaitu puskesmas pembantu dan posyandu. Pustu digunakan sebagai pelayanan imunisasi, pengobatan, konsultasi, bagi masyarakat. Sedangkan posyandu untuk melayani pemerikasaan perkembangan anak balita, imunisasi masal. Untuk penambahan gisi bagi 20 anak balita di dusun Watugede, warga mengadakan model jimpitan tiap hari, yang hasilnya dikelola posyandu dusun untuk keperluan tersebut. Pertemuan Posyandu ini dilakukan setiap tanggal 18 di rumah kadus. Persoalan pertanian sebenarnya tidak hanya soal budidaya tanaman, tetapi semua aspek yaitu peternakan, konservasi, kesehatan, pendidikan akan saling terkait. Budaya gotong royong yang masih kental di dusun ini yang telah memberikan kontribusi terbesar dalam pembangunan desa khususnya Watugede. Sejarah SelobentarKata Sela Benter berarti juga batu panas. Penggunaan Sela Bentar sebagai nama kampung ini tak lepas dari keberadaan Batu Besar di tengah tengah kampung tersebut yang hingga sekarang masih ada. Batu tersebut meskipun panas, namun „akrab“ dengan masyarakat sehingga siapapun yang jatuh dari batu tersebut biasanya tak terjadi apa-apa. Masyarakat begitu menghargai keberadaan batu tersebut bahkan mengganggap batu tersebut memiliki spirit kehidupan. Sehingga ketika mereka memiliki hajat tertentu, mereka tak segan-segan „nyepi“ dengan memilih tempat di sekitar batu tersebut. Karena itu daerah tersebut populer dengan sebutan Selabentar. Selain Batu yang dikenal dengan Sela Bentar, juga terdapat dua batu besar dekat masjid Selo Benter yang dikenal sebagai danyang (leluhur). Maka setiap Selasa Legi / Jumat Legi bulan Suro diadakannya tradisi nyadran, yaitu semacam doa bersama kepada Sang Pencipta agar masyarakat diberi keselamatan. Ada juga danyang lain yang justru lebih tua dikenal dengan Eyang Perang Dudo. Tempatnya berupa pohon sangat besar seukuran lima orang rangkulan yang disebut Nglumpet. Secara geografis dan topografis, gambaran Dusun Selobentar dapat dilihat dari: letak/posisi, luas wilayah, kondisi tanah, curah hujan dan sebagainya. Dusun selobentar terletak di sebelah selatan kota Karanganyar, berada pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Secara topografis, Dusun Selobentar merupakan wilayah yang termasuk dalam kategori dataran tinggi, dengan suhu rata-rata berkisar 20 - 30 derajat celcius. Dari segi administratif, pemerintah Dusun Selobentar masuk dalam wilayah Desa Wonokeling, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dusun ini berada pada sekitar 14 km di Selatan Kecamatan Jatiyoso yang memiliki panjang jalan 8 km, 1 km jalan beraspal, 3 km jalan berbatu, 3 km jalan tanah, dan 400 meter jalan beton. Sebagai salah satu dari sepuluh dusun dari desa Wonokeling yang berada dalam wilayah kecamatan Jatiyoso. Dusun Selobentar memiliki luas wilayah 421.000 m2. Wilayah dusun 90 % berupa areal gunung perbukitan untuk perumahan, tanah persawahan, dan ladang dari keseluruhan luas dusun. Untuk wilayah permukiman/perumahan adalah 266.000 m2, sawah 90.000 m2 dan tegalan 60.000 m2. Sisanya adalah tanah yang digunakan untuk jalan dusun dan jalan kampung. Bangunan pemerintahan desa yang ada di dusun ini adalah balai desa, puskesmas, 1 masjid, 1 mushala, 1 Sekolah Dasar, dan 1 poskamling. Dusun ini tidak memiliki tempat berkumpul warga atau gedung serba guna. Tempat berkumpul warga untuk kepentingan dusun bertempat di rumah kepala dusun. Jumlah penduduk Dusun Selobentar pada bulan Mei 2008 mencapai 654 jiwa yang terdiri dari 133 Kepala Keluarga dengan rincian 328 laki-laki dan 326 perempuan. Menurut pengakuan sejumlah informan, mayoritas warga Dusun Selobentar adalah Warga Negara Indonsia dan rata-rata beragama Islam. Mata pencarihan yang menjadi tumpuhan hidup masyarakat tergolong berfaritait. Ada yang bekerja di sektor pertanian, peternakan, kerajian anyaman bambu (3 orang), industri kecil krupuk rambak (1 orang), dan jasa pemijatan (3 orang). Kebanyakan masyarakat (sekitar 250 orang dari perempuan dan laki-laki) menjadi perantauan di luar pulau jawa, semisal di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Jakarta. Mereka rata-rata berjualan bakso dan jual jamu. Bagi mereka yang merantau dari pasangan suami-istri, biasanya laki-laki bekerja menjadi penjual bakso dan istri menjual jamu keliling. Mereka yang tinggal di dusun bekerja di ladang dan sawah terasering di lereng-lereng gunung dan perbukitan. Di sektor peternakan, masyarakat memelihara ternak sapi, kambing, dan ayam. Dari tinggakat pendidikan mayoritas warga lulusan SD dan sebagian kecil lulus SLTP. Menurut kepala dusun, jumlah warga yang sekarang mengenyam pendidikan SD sebanyak 22 anak, SLTP sebanyak 50, SLTA 11 orang, dan Perguruan Tinggi (PT) 1 orang. Masih sedikit masyarakat yang mengenyam bangku sampai lulus SLTA. Setelah lulus dari SLTP, mereka kebanyakan merantau ke luar kota sebagai penjual bakso dan jamu gendong. Kepergian mereka cukup masuk akal, karena mereka menganggap dusun tidak potensial secara ekonomis, apalagi lahan pertanian cukup sempit dan terletak di lereng-lereng perbukitan. Sehingga merantau menjadi alasan yang tak terhindarkan guna mengubah kondisi ekonomi. Hasil dari merantau inilah, yang dibuat memperbaiki rumah dan fasilitasnya. Maka wajar, banyak rumah-rumah bagus yang berdiri di dusun ini. Serba-Serbi Dusun SelobentarSetiap hari minggu pagi terlihat ibu-ibu dan perempuan muda dari tiap RT mengayungkan sapu lidi membersihkan sepanjang jalan utama kampung, sehingga tak heran jalan-jalan dusun pada hari minggu nampak begitu bersih dari kotoran. Seusai melakukan gotong royong membersihkan jalan-jalan dusun atau minggu bersih, acara diakhiri dengan arisan masing-masing peserta wajib membayar uang 5 ribu. Jumlah peserta mencapai 50 orang, dengan demikian uang yang dikantongi peserta yang beruntung mencapai Rp. 250.000 Tradisi ini diwarisi warga dari nenek moyang mereka dan dirawat sampai saat ini. Kebersamaan benar-benar mereka jaga. Sehingga, tak heran solidaritas sosial di kalangan mereka sangat kuat. Arisan tidak hanya berbentuk uang saja. Kelompok bapak-bapak juga memiliki kelompok arisan bahan-bahan bangunan untuk membangun rumah. Selain itu, bapak-bapak dan kaum laki-laki juga masih memiliki jiwa gotong royong cukup kuat. Setiap ada pembangunan fasilitas umum dusun semisal jalan, jembatan, talut jalan, dan lainnya selalu dikerjakan secara gotong royong. Bahkan setaiap ada warga yang membangun rumah pun selalu dilakukan secara gotong royong, sehingga biaya oprasional pembangun rumah tidak begitu tinggi. Budaya gotong royong juga terlihat pada setiap ada hajatan. Menurut Pak Giman, siapapun anggota masyarakat yang sedang punya "gawe" (hajatan), seperti mitoni (memperingati tujuh bulan kehamilan), sepasaran bayi (peringatan hari kelima dari kelahiran bayi), mantu (pernikahan), maka seluruh masyarakat memberikan bantuannya baik berupa bantuan material (bisa berupa beras atau sembako maupun uang yang sering diistilahkan dengan nyumbang) maupun tenaga dan pikiran. Setiap malam di hari-hari hajatan itu pemilik hajat akan dikunjungi oleh seluruh masyarakat. Mereka akan berkumpul di sana, membicarakan berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat sambil menunggu suguhan dari pemilik rumah. Untuk mengisi waktu luang di saat tersebut, mereka biasanya melakukan perjudian. "Untuk menghilangkan jenuh dan ngantuk" kata Pak Karto Wiyono. Kebiasaan berjudi ini dilakukan di setiap ada hajatan, bahkan di rumah orang yang sedang menerima kematian. Ketika ada warga yang meninggal, maka mereka melaksanakan tahlilan di rumah anggota keluarga si mayit. Akan tetapi, sehabis acara tahlilan, mereka melakukan perjuadian hingga pagi tiba. Dan itu dilakukan sampai sembilan hari, dilanjutkan di hari keempat puluh (matang puluh), keseratus (nyatus), keseribu (nyewu), setahun setelah kematian (mendak). Untuk setahun pertama dari kematian mereka menyebutnya mendak pisan, tahun kedua mendak pindo, tahun ketiga mendak telu, dan seterusnya. Parto Wiyono bercerita bahwa setiap bulan Ruwah, masyarakat Selobentar mengadakan acara Ruwahan atau bersih desa. Acara ruwahan dilakukan dengan cara membawa hasil panenan dan ingkung (panggang ayam utuh) ke rumah Pak Kadus. Setiap kepala keluarga diharuskan membawa satu ingkung dan perangkatnya, dibawa ke rumah Pak Kadus dan dimakan bersama-sama, dan kadang ada yang membawanya pulang. Tujuan diadakannya acara suronan adalah untuk meminta keselamatan pada danyangan atau leluhur. Dalam lingkup budaya, masyarakat Selobentar sangat kuat melestarikan budaya jawa. Budaya jawa yang masih depagang kuat masyarakat menurut Bapak Parto Wiyono adalah tradisi Suronan. Ritual suronan dilakukan dengan membawa makanan, ingkung dan perlengkapannya ke tempat punden atau danyangan dan memakannya di sana. Danyangan atau punden di Selobentar ada dua, yaitu sepasang batu yang ada di samping Masjid yang dinamakan Jin Slam dan sebuah pohon besar yang ada di sebelah utara dusun yang dinamakan Danyang Perang Dudo. Warga juga banyak memberikan sesajen setiap kali mereka hendak melakukan hajatan (kepentingan), atau hendak merantau atau memulai jenis usaha. Masyarakat percaya bahwa setiap memiliki tujuan tertentu dan agar supaya tercapai, dengan membuat sesajen pada dua danyang tersebut dan meminta padanya, pasti akan terkabul. Itulah cerita tentang budaya sesejen yang dipaparkan Pak Karto (52 th) dan Mbah Sumo (62 th). Ekonomi Masyarakat SelobentarMayoritas warga yang di dusun ini mencukupi hidupnya dari hasil pertanian. Meski lahan rata-rata sempit, dan mayoritas berada di areal perbukitan, masyarakat masih tetap bersemangat untuk bercocok tanam. Di areal sAwah terasering, masyarakat menanaminya dengan padi dengan masa 3 kali dalam setahun. Untuk menambah pendapat keluarga, masyarakat yang memiliki ladang menanami dengan tanaman singkong, jagung, dan juga pohon-pohon yang bernilai ekonomis. Selain bertani, sekitar lima orang juga menekuni kerajinan anyaman bambu sebagai mata pecarihan sehari-hari. Mereka menganyam bambu menjadi kerajang dan plafon rumah. Menurut Bapak Paimin (40 th), permintaan kerajinan bambu untuk plafon rumah tidak hanya datang dari dusun ini, tetapi juga dari daerah lain semisal Solo, Karanganyar, Jatiyoso, dan lain-lain. Jumlah orang yang dipekerjakan oleh Bapak Paiman sebanyak 4 orang yang masuk setiap hari. Pekerjaannya direkrut dari masyarakat setempat. Selain itu, sebagian kecil warga juga hidup dari berdagang atau membuka toko kelontong, berternak kambing atau sapi. Dikarenakan lahan sempit dan potensi dusun yang dianggap tidak begitu menguntungkan, kaum laki-laki dan perempuan, terutama usia 16-30 tahun, banyak yang merantau mengais rezeki atau merantau ke berbagai penjuru kota di Indonesia, di antaranya adalah Sumatra, Kalimantan, sulawesi, Papua, dan Jakarta. Dan itulah penghasilan yang menurut mereka lebih baik dan sampai sekarang ditekuni. |