|
Stigma dahulunya adalah sebutan untuk pembuatan cap di kulit dengan besi panas, perkembangannya menjadi CAP, STEMPEL. Lebih jauh lagi berubah makna pada konotasi sosial yang menjurus pada hal-hal yang dianggap aib, ternoda, dan kenistaan. Entah bagaimana ceritanya makna tersebut berkembang menjadi "STIGMA SOSIAL" dimana individu dan kelompok sosial tertentu dianggap melakukan perbuatan tercela, penuh noda yang membahayakan individu dan kelompok sosial yang normal. Karena perilakunya yang demikian maka di CAP melawan norma masyarakat. Kondisi ini memaksa sebuah kebijakan untuk mengucilkan individu atau kelompok ini. Hal ini dibenarkan secara umum karena individu atau kelompok yang tidak sesuai norma tadi adalah jenis manusia tidak waras atau GILA. Konon di suatu zaman, di suatu masa, di suatu tempat--kalau ada orang yang dianggap "gila" oleh para penguasa ilmu psikologi-- jenis manusia yang dianggap gila itu harus dikucilkan (dibuang di pulau terpencil) agar tidak berinteraksi dengan masyarakat manusia normal, cara ini berlangsung hingga 200 tahun. Kemudian ditemukan cara yang lebih praktis oleh ahli psikologi, yaitu sebuah alat pengekang yang disebut PASUNG (Physical restraint and confinement)--agar manusia yang dianggap membahayakan itu tidak berkeliaran di tengah-tengah masyarakat yang dianggap normal, maka kedua kakinya dipasung sehingga tidak bergerak dan tidak akan mampu berkeliaran kemana-mana. Cara ini berlangsung sampai dengan 100 tahun. Cara pemasungan yang dikenalkan oleh para ahli ini semula diamini menjadi metode yang paling benar. Namun pada perkembangannya kemudian disadari bahwa cara ini sangat tidak manusiawi. Barulah setelah itu ditemukan metode pengelolaan kepada orang-orang yang tidak normal untuk dimasukkan pada Rumah Sakit Jiwa (RSJ) sampai dengan sekarang. Apa sebenarnya yang berubah dan yang tidak berubah (perlakuannya, tempatnya .....) dari ke tiga metode penanganan orang yang dianggap tidak normal? Hingga sekarang metode ini juga diadopsi oleh para periset sosial untuk memberi label atau cap atau stempel atau stigma kepada masyarakat. Misalnya, kenapa masyarakat miskin? Karena dianggap malas, bodoh, motivasi rendah. Jadi malas, bodoh, dan motivasi rendah dianggap menjadi ciri khas masyarakat berperilaku tidak normal. Celakanya, cap ini diciptakan oleh penguasa ilmu pengetahuan maka akibatnya stigma-stigma tersebut di ambil-alih atau disepakati oleh masyarakat yang mendapat stigma. Sikap dan cara seperti ini yang menjadi cikal-bakal cara memandang masalah dengan menyalahkan korban (blaming the victim)
|